2/14/2010

Today A Reader, Tomorrow A Leader


Nazri, adik kampus tanya saya, apa yang perlu dia buat untuk jadi naqib?
Soalan yang sangat pro-aktif. Saya cukup kagum dengan sikap pro-aktif Nazri. Tak pernah saya tanya pimpinan ataupun naqib dengan soalan tu masa di sekolah mahupun di kampus. Pada diri Nazri, saya nampak beliau adalah 'bintang' pemimpin Islam yang cemerlang di masa depan!

Belajar Mengasihi, Rajin Membaca

Berdasarkan sedikit pengalaman, beberapa cadangan saya beri. Selepas belajar ambil peduli (caring), dan mengasihi orang lain, saya cadangkan supaya pertingkatkan diri dengan rajin-rajin membaca. Sebabnya, naqib adalah pemimpin.

Naqib bertanggungjawab memimpin anggota keluarga (usrah) supaya bukan sahaja jadi seorang mukmin, tapi mukmin yang mahukan orang lain juga jadi mukmin - pendakwah. Anggota usrah bukan saja rasa cukup dengan diri sendiri jadi mukmin, tapi mereka juga nakkan orang lain turut sama jadi mukmin.

Maksudnya, naqib adalah pemimpin bagi pemimpin!

Naqib: Pemimpin Bagi Pemimpin

Sebagai pemimpin, sepatutnya kita berjalan sekurang-kurangnya selangkah ke hadapan (one step ahead), dan anggota usrah mengikutnya dari belakang. Apa yang kita buat, pengikut perhatikan kita dari belakang seperti mana kita perhati dan mengikut imam dalam solat.

Secara idealnya, naqib adalah role model bagi seluruh anggota usrah. Dan anggota usrah mahu jadi lebih baik sebagaimana naqibnya!

Itulah yang saya fikir dulu. Saya cukup kagum dengan naqib-naqib saya di sekolah dan universiti.

Naqib Adalah Role Model

Ustaz Amir Ramadhan, Ustaz Rafie, Akhi Hisham Fauzi (KB), Akhi Adnan Rozob (Pahang), Akhi Ghazali (Sabah), Akhi Dzorif (Kuala Kangsar), dan Akhi Zabri (Putrajaya) adalah antara naqib (di sekolah dan universiti) yang saya kagumi. Dari mereka, saya bukan saja dapat ilmu Islam dan dakwah, tapi mereka telah memberi impak yang besar dari pelbagai aspek dalam kehidupan saya!

Dulu, saya adalah seorang introvert - sangat pemalu dan sangat rendah hati (tak yakin pada diri). Hinggakan nak daftar masuk universiti, saya minta mama yang daftarkan! Tak terlintas difikiran untuk saya keluar ke depan, dan bercakap di depan puluhan, bahkan ratusan hadirin.
Tapi melalui naqib, saya diberi keyakinan. Naqib membuatkan saya percaya pada kemampuan diri. Saya berlajar public speaking dari mereka. Saya dilatih untuk bercakap dalam majlis-majlis.

Naqib: Melatih 'Ayam' Menjadi 'Helang'!

Bermula dari bercakap di perjumpaan usrah-usrah yang kecil, hingga Allah beri kekuatan untuk saya jadi ahli Majlis Perwakilan Pelajar (MPP), dan Ketua Fasilitor Minggu Wawasan Siswa! Terpaksa berucap di depan ratusan pelajar, pensyarah-pensyarah, dan termasuk Pengarah dan Timbalan-timbalan Pengarah Kampus!

Oh, itu semua didikan Allah melalui insan-insan yang saya gelarkan "naqib".

Sungguh besar impak seorang naqib pada anggota usrah. Tanpa mereka, tak mungkin saya mampu memimpin organisasi-organisasi kecil dalam masyarakat hari ini. Tanpa mereka, saya tak mampu berucap dan berhadapan dengan para ibubapa anak-anak PASTI yang saya diamanahkan sebagai Pengurusnya...

Macam mana seorang naqib boleh memimpin dengan baik?

Today A Reader, Tomorrow A Leader

Antara attitude yang saya nampak pada naqib-naqib adalah mereka ada readers! Mereka rajin membaca. Bahkan banyak koleksi-koleksi kitab yang tersimpan dalam almari buku saya sekarang ni adalah atas cadangan naqib.

Akhi Dzorif (salah seorang naqib saya di kampus) sangat obses dengan membaca. Kalau ada bahan bacaan yang baru dibeli, ah mintak maaf. Jangan la potong line dia membaca. Selagi dia tak habis baca, memang kami (anggota usrah) tak dapat cilok (pinjam)! Dia benar-benar seorang readers!

Dan sikap yang ada pada beliau, hari ini melekat juga pada saya!

Anggota Usrah Meniru Naqib

Antara kelemahan saya bila ke kedai buku, ialah terbeli buku! Hinggakan isteri selalu 'merungut', "Abang beli buku baru lagi? Mana nak simpan? Almari buku tu pun dah penuh!"

Membaca dah jadi tabiat. Ke mana-mana pergi, saya tak selesa tanpa bawa buku untuk dibaca. Bukan saja dunia dakwah, bahkan dunia luar pun sama. Dalam apa bidang sekalipun, membaca tetap penting apabila kita memimpin.

Prinsipnya, seorang pemimpin, mestilah terlebih dulu jadi seorang yang rajin membaca. Membaca bukan sekadar membaca, tapi membaca dengan harapan untuk pertingkatkan diri. Sentiasa mencari ruang untuk pertingkatkan diri.

Dunia Kerjaya Pun Sama

Dalam dunia bisnes, mentor kami selalu tekankan supaya rajin membaca. Menurut beliau, kajian menunjukkan orang yang berjaya di dunia, membaca sekurang-kurangnya 14 buku setahun, tapi orang orang biasa hanya membaca tak lebih 2 buku setahun!
Sebab tu orang berjaya hidupnya luar biasa, dan orang biasa hidupnya biasa-biasa saja. Sebab tabiatnya terlalu biasa!

Untuk bulan ni, mentor kami cadangkan buku bertajuk "The 5 Secrets You Must Discover Before You Die" karangan John Izzo Ph.D. Saya baru saja dapatkan buku ni. Belum tahu apa kandungannya. Tapi yang pastinya, buku-buku yang dicadangkan semuanya untuk pertingkat diri kami sebagai hamba dan khalifah Tuhan di muka bumi!

Wallahu a'lam.

Perkongsian Daripada,

Zulkifli
Damansara Heights
8 Februari 2010
24 Safar 1431

2/07/2010

Khalifah Umar Al-Khattab : Pemimpin yang penuh bertanggungjawab

Khalifah Umar bin Khatab dikenal sebagai pemimpin yang sangat disayangi rakyatnya karena perhatian dan tanggungjawabnya yang luar biasa pada rakyatnya. Salah satu kebiasaannya adalah melakukan pengawasan langsung dan sendirian berkeliling kota mengawasi kehidupan rakyatnya. Inilah beberapa kisahnya.

Pada suatu malam hartawan Abdurrahman bin Auf dipanggil oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk diajak pergi ke pinggir kota Madinah.
“Malam ini akan ada serombongan kafilah yang hendak bermalam di pinggir kota, dalam perjalanan pulang”, kata Khalifah Umar kepada Abdurrahman bin Auf.
“Lalu apa masalahnya?” tanya Abdurrahman.
“Kafilah ini akan membawa barang dagangan yang banyak, maka kita sebaiknya ikut menjaga keselamatan barang dari gangguan tangan-tangan usil. Jadi nanti malam kita bersama-sama harus mengawal mereka”, sahut sang Khalifah. Abdurahman dengan senang hati membantu dan siap mengorbankan jiwa raganya menemani tugas khalifah yang ia cintai ini.

Demikianlah sang khalifah menjalankan tugasnya, turun tangan langsung untuk memastikan rakyatnya tidur dan hidup dengan tenang. Bahkan malam itu khalifah Umar mendesak Abdurahman untuk tidur sambil siaga sementara ia sendiri tetap terjaga hingga pagi hari.

Khalifah Umar bin Khattab memang dikenal sebagai seorang pemimpin yang selalu melakukan perbuatan-perbuatan baik secara diam-diam. Orang yang ditolongnya sering tidak tahu, bahwa penolongnya adalah khalifah yang sangat mereka cintai.

Pernah suatu malam Auza’iy pernah ‘memergoki’ Khalifah Umar masuk rumah seseorang. Ketika keesokan harinya Auza’iy datang ke rumah itu, ternyata penghuninya seorang janda tua yang buta dan sedang menderita sakit. Janda itu mengatakan, bahwa tiap malam ada orang yang datang ke rumahnya untuk mengirim makanan dan obat-obatan. Tetapi janda tua itu tidak pernah tahu siapa orang tersebut! Padahal orang yang mengunjunginya tiap malam tersebut tak lain adalah adalah khalifah yang sangat ia kagumi selama ini.

Pada suatu malam lainnya ketika Khalifah Umar berjalan-jalan di pinggir kota, tiba-tiba ia mendengar rintihan seorang wanita dari dalam sebuah kemah yang lusuh. Ternyata yang merintih itu seorang wanita yang akan melahirkan . Di sampingnya, duduk suaminya yang kebingungan. Maka pulanglah sang Khalifah ke rumahnya untuk membawa isterinya, Ummu Kalsum, untuk menolong wanita yang akan melahirkan anak itu. Tetapi wanita yang ditolongnya itu pun tidak tahu bahwa orang yang menolongnya dirinya adalah Khalifah Umar, Amirul Mukminin yang mereka cintai.

Pada kisah lainnya, ketika sang Khalifah sedang ’meronda’, ia mendengar tangisan anak-anak dari sebuah rumah kumuh. Dari pinggiran jendela ia mendengar, sang ibu sedang berusaha menenangkan anaknya. Rupanya anaknya menangis karena kelaparan sementara sang ibu tidak memiliki apapun untuk dimasak malam itu. Sang ibupun berusaha menenangkan sang anak dengan berpura-pura merebus sesuatu yang tak lain adalah batu, agar anaknya tenang dan berharap anaknya tertidur karena kelelahan menunggu. Sambil merebus batu dan tanpa mengetahui kehadiran Khalifah Umar diluar jendela, sang ibupun bergumam mengenai betapa enaknya hidup khalifah negeri ini dibanding hidupnya yang serba susah. Khalifah Umar yang mendengar hal ini tak dapat menahan tangisnya, iapun pergi saat itu juga meninggalkan rumah itu. Malam itu juga ia menuju ke gudang makanan yang ada di kota, dan mengambil sekarung bahan makanan untuk diberikan kepada keluarga yang sedang kelaparan itu. Bahkan ia sendiri yang memanggul karung makanan itu dan tidak mengizinkan seorang pegawainya yang menemaninya untuk membantunya. Ia sendiri pula yang memasak makanan itu, kemudian menemani keluarga itu makan, dan bahkan masih sempat pula menghibur sang anak hingga tertidur sebelum ia pamit untuk pulang. Dan keluarga itu tak pernah tahu bahwa yang datang mempersiapkan makanan buat mereka malam itu adalah khalifah Umar bin Khatab !


SEPAHIT MADU ....... SEMANIS HEMPEDU

“Abang nak pi mana bang?” tanya Munirah kepada suaminya sambil tangannya ligat menyusun pakaian di dalam almari.

“Abang ada meeting. Susulan isu hina syari‘ah minggu lepas,” jawab Haikal sambil membetulkan butang baju Melayu di hadapan cermin.

“Meeting lagi bang?” si isteri bertanya, namun nada Munirah seolah-olah mengeluh atas kesibukan suaminya yang selalu bergiat aktif dalam pertubuhan Islam.

Tiada jawapan yang terbit dari mulut Haikal. Setelah beberapa ketika, Haikal mencapai fail di atas meja, lalu beredar begitu sahaja. Di sudut hatinya, dia memanjangkan doa kepada Allah SWT supaya isterinya diberikan kekuatan seperti kekuatan Siti Hajjar tatkala Nabi Ibrahim meninggalkan si isteri untuk menyahut perintah Ilahi.

Haikal tahu, betapa perit dirasakan oleh Munirah sejak mereka mendirikan rumahtangga. Haikal yang sudah berhenti daripada kerja lamanya semata-mata untuk memenuhkan waktu sehariannya dalam menjalankan kerja-kerja da‘wah, sedikit sebanyak menyebabkan isterinya itu bermuram durja hampir setiap hujung minggu. Namun, rajuk sang isterinya itu tidak melunturkan semangat Haikal untuk menjalankan tanggungjawab bersama-sama sahabat-sahabatnya yang lain.

Setelah bunyi kereta Kancil kepunyaan Haikal semakin hilang derumannya dari pintu rumah, Munirah segera berbaring di atas katil sambil memeluk bantal sekuat hatinya. Titisan air mata Munirah membasahi bantal tersebut meninggalkan sedikit kesan warnanya yang semakin gelap. Hatinya gundah, perasaannya kucar-kacir, emosinya terumbang-ambing. Entah kenapa dirasakannya hidupnya tidak bahagia setelah mendirikan rumahtangga bersama sahabat sejemaah. Saat-saat hidupnya dihabiskan dengan mengemas rumah, memasak, mencuci pakaian, dan melayan suaminya. Namun, hanya hampir suku hidup suaminya di rumah, bakinya bergiat aktif di luar. Bagi Munirah, perkahwinan tidak semanis yang digambarkan di dalam novel-novel dan cerpen-cerpen cinta.

Munirah tersentak. Dia segera bangun dan menuju ke sisi katil seraya membuka kotak berwarna merah yang berbalut kemas. Memorinya diulang-ulang bagi mengingati cerpen yang pernah dibacanya dahulu sebelum mengahwini Haikal. Dikeluarkannya buku-buku dari kotak tersebut sehingga tangannya tiba-tiba tersentuh sehelai kertas yang berbalut kemas dengan plastik. Munirah menggenggam kemas, lalu mengalihkan kerusi dibelakangnya bagi memberi ruang untuknya membaca.

Setelah Munirah bersandar di atas kerusi tersebut, dibacanya cerpen itu dengan penuh tumpuan. Selang beberapa minit, air mata Munirah mengalir lebih deras. Helaian kertas tadi dirapatkannya ke dada, mengharap supaya ketenangan menusuk kalbunya yang dirasakannya semakin sesak.

Haikal tiba di pejabat tempatnya bekerja lewat 10 minit. Setelah beberapa ketika, mesyuarat dimulakan dengan bacaan ayat suci surah al-Fatihah. Perbincangan tersebut semakin hangat setelah sahabat-sahabat Haikal mengutarakan perkembangan terkini isu yang sedang mereka tempuhi bersama-sama sahabat-sahabat daripada pertubuhan-pertubuhan Islam yang lain.

“Tak boleh jadi macam ni. Kena gandakan lagi usaha ni,” ujar Ramli, salah seorang sahabat Haikal yang rapat.

“Masalahnya kawan-kawan rapat kita pun tak bagi support. Siap tak mau jumpa ana lagi tu,” sambung Izham pantas.

Haikal mengaru-garu dahinya yang tidak gatal sambil menaikkan sedikit kopiah yang dipakainya. Dadanya terasa sempit. Di fikirannya terbayang masa-masa bersama isteri dan anaknya pada hujung minggu itu yang sudah dirancang minggu lepas. Sambil menghela nafas panjang, Haikal bersuara,

“Weekend ni kita kena habiskan fasa pertama, tak kira macam mana pun. Nanti isu ni basi,” tegas Haikal sambil membetulkan kopiah di kepalanya.

Perbincangan menjadi semakin lanjut sehingga jam 2 pagi. Masing-masing kelihatan penat dan tidak mahu melanjutkan perbincangan di kedai kopi. Begitu juga Haikal. Esok pagi dia terpaksa memenuhi permintaan anak usrahnya yang menjemputnya untuk memberi pengisian kuliah Subuh di sebuah surau berdekatan dengan tempatnya belajar dahulu.

Keesokan harinya, Munirah bangun dari tidur dan mendapati suaminya tiada di sisi. Terasa kekosongan di hatinya akibat jadual si suami yang sentiasa penuh mengisi aktiviti-aktiviti luar. Munirah bangun dari katil, lalu bersiap untuk mengemas rumah dan membasuh pakaian. Terasa di sudut hatinya sedikit kecewa dengan sikap suaminya yang terlalu sibuk.

Jam dinding menunjukkan pukul 9 pagi. Tiba-tiba Munirah terdengar suaminya memberi salam dari pintu hadapan rumah. Segera dia membuka pintu tersebut dan menyambut beg kecil yang disandang Haikal. Haikal melabuhkan tubuhnya di atas kusyen, melepaskan penat sambil membelek catatan mesyuaratnya malam tadi. Selang beberapa ketika, Munirah menghulurkannya segelas air untuk diminum.

“Abang, malam tadi Mun jumpa hadiah yang paling bermakna dari abang kepada Mun,” senyum si isteri sambil duduk bersimpuh di hadapan suaminya itu.

Haikal meneguk air lalu meletakkan gelas tersebut di sisinya.

“Hm?” dengus Haikal memberikan isyarat supaya Munirah memberi penjelasan.

Munirah tersenyum lalu mencapai kertas berbalut plastik di sebelahnya. Kertas tersebut dihulurkan kepada suaminya yang tercinta. Haikal membalikkan kertas tersebut, lalu terdiam setelah melihat catatan di dalamnya.

“Apa maksud Mun?” tanya Haikal tanpa membaca keseluruhan isi kandungan kertas tersebut.

“Mun faham tanggungjawab abang. Mun faham abang sibuk sebab kerja-kerja da‘wah,” senyum si isteri semakin lebar.

“Lepas baca cerpen ni?” soal Haikal sambil mengangkat sedikit kertas yang digenggamnya itu.

Munirah mengangguk sedikit.

Tiba-tiba Haikal membuka plastik kertas tadi lalu mengoyak-ngoyak cerpen tersebut dengan perlahan.

Munirah terkesima. Mulutnya sedikit ternganga melihat kelibat suaminya. Hatinya luluh, seolah-olah yang dikoyak oleh suaminya itu adalah jiwa dan perasaan Munirah. Hatinya terasa sejuk, kelopak matanya bergenang air mata dengan pantas.

Haikal segera menggapai tangan isterinya.

“Mun, ini hanya cerpen Mun. Jangan terlalu mengagung-agungkannya,” sayup suara Haikal menusuk kalbu Munirah.

“Tapi abang kan yang tulis? Abang kan yang hadiahkan cerpen ni buat Mun?” suara Munirah serak basah, tersekat-sekat.

“Abang tulis bukan untuk dihurai atau dihayati sehingga realiti dunia ditolak ketepi,” sambung suaminya.

“Dulu ramai puji abang sebab berjaya menyentuh hati para penda‘wah dengan cerpen ni. Tapi apa yang jadi? Mereka hanya nampak kebahagiaan bila berumahtangga dengan orang-orang jemaah. Mereka hanya nampak kebahagiaan bila si suami atau isteri berda‘wah. Lepas kahwin? Apa yang terjadi?” soal Haikal lemah-lembut sambil mengusap-ngusap tangan si isteri tercinta.

Munirah diam seribu bahasa. Dia sedar, kesibukan suaminya berda‘wah di luar adalah disebabkan para penda‘wah kampus dahulu aktif di dalam kampus, langsung meninggalkan gerak kerja da‘wah setelah keluar dari kampus. Ilmu yang mereka peroleh di dalam usrah langsung tidak dihayati dan dimaknai dalam kehidupan seharian. Sehingga isu-isu akidah dan syari‘ah saban hari menekan jiwa para penda‘wah sepenuh masa seperti suaminya itu.

“Kebahagiaan bukan terletak dalam cerpen ni Mun, tapi ayat di bawah ni,” Haikal meletakkan jari telunjuknya di barisan terakhir cerpen tersebut. Tepat di atas terjemahan ayat al-Qur’ān.

Air mata Munirah semakin deras membasahi pipinya. Dipeluknya Haikal bagi menenangkan hatinya yang selama ini kabur tentang makna kebahagiaan berumahtangga dengan penda‘wah.

“Abang tulis cerpen ni hanya sebagai simbolik zaman ini dalam menghayati ayat al-Qur’ān ni. Tapi, ramai yang kagum dengan cerpen, langsung tidak mengendahkan apa yang dimaksudkan dengan kata-kata Allah SWT kepada hamba-hambanya,” suara Haikal semakin serak, dadanya terasa sempit.

“Tidak ada cerpen terbaik selain KalamuLlah, sayang,” kata-kata Haikal tersebut menyebabkan Munirah memeluk suaminya dengan lebih erat lagi. Tangisannya semakin kuat.

Selang beberapa lama, tangisan Munirah semakin reda. Dia sedar, realiti sebenar kehidupan bukanlah terletak kepada keindahan karangan manusia, tetapi tertakluk mutlak kepada ‘karangan’ Allah SWT. Dia sedar, hidupnya di dunia ini hanyalah pinjaman sementara, suaminya juga hanyalah pinjaman buat dirinya berkongsi rasa. Hanya Allah SWT Pemilik mutlak diri suaminya.

Munirah terasa kelegaan yang luas di dadanya. Kesyukuran memenuhi di setiap sudut hatinya dijodohkan dengan suami sehebat Haikal.

“Mak, nak buang tak sampah ni?” tanya Hakim, anak sulung Munirah dan Haikal yang berumur hampir 5 tahun selepas makan tengahari.

“Buang la. Dah penuh dah tu bakul tu,” jawab Munirah.

“Yang ni sekali?” tanya anaknya lagi sambil menarik keluar secebis kertas dari bakul tersebut.

Munirah mengangguk yakin, sambil tersenyum sedikit.

Hakim membelek-belek cebisan kertas tersebut. Dicantumkannya satu persatu mengikut susunan garis yang dikoyak. Disusunnya di atas lantai. Lalu dibacanya perkataan di atasnya satu persatu.

“Sepahit Madu?” bisik benak Hakim membaca tajuk di kertas tersebut.

12/19/2009

HIJRAH DAN PENGAJARANNYA... (bacalah....)

PENTING!!!

Saban tahun umat Islam merayakan sambutan tahun baru hijrah; sebagai memperkukuh ciri agama dan budaya Islam di kalangan individu masyarakat. Setiap umat merasa bangga dengan tahun dan sejarahnya sendiri. Mereka mahu mengabadikan pencapaian leluhur silam dalam semua bidang termasuk bidang pengiraan hari , bulan dan tahun. Ini adalah kerana dalam lipatan tahun tersebut terdapat kenangan, makna dan nilai-nilai moral dan historis yang menempel kepada sahsiah dan jatidiri umat itu sendiri. Oleh itu perayaan menyambut tahun hijrah adalah suatu kewajaran .

Apa yang lebih penting ialah bagaimana kita boleh mengambil iktibar dan suri tauladan dari peristiwa silam untuk mengukir sejarah masa depan yang lebih gemilangan dan cemerlang tanpa tembelang dan temberang. Apakah makna , konsep dan prinsip-prinsip baru yang boleh diketengahkan dalam menghadapi cabaran hidup yang semakin dahsyaht dan sengit di mayapada ini. Untuk menyelami makna dan hikmah tersebut rasanya kita perlu memahami ayat ayat al Quran dan Hadith yang berkaitan dengan hijrah

Hijrah Dalam al Quran

Perkataan “ha-ja-ra “ dan kata kata yang berkaitan dengannya berulang empat kali. Dalam Surah an Nisa’ ayat :34

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Kaum lelaki adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum perempuan, oleh kerana Allah telah melebihkan orang-orang lelaki (dengan beberapa keistimewaan) atas orang-orang perempuan, dan juga kerana orang-orang lelaki telah membelanjakan (memberi nafkah) sebahagian dari harta mereka. Maka perempuan-perempuan yang soleh itu ialah yang taat (kepada Allah dan suaminya), dan yang memelihara (kehormatan dirinya dan apa jua yang wajib dipelihara) ketika suami tidak hadir bersama, dengan pemuliharaan Allah dan pertolonganNya. Dan perempuan-perempuan yang kamu bimbang melakukan perbuatan derhaka (nusyuz) hendaklah kamu menasihati mereka, dan (jika mereka berdegil) pulaukanlah mereka di tempat tidur, dan (kalau juga mereka masih degil) pukulah mereka (dengan pukulan ringan yang bertujuan mengajarnya). Kemudian jika mereka taat kepada kamu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi, lagi Maha Besar.

Dalam Surah Mariam ayat :46

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْراهِيمُ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

(Bapanya) menjawab: "Patutkah engkau bencikan tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Demi sesungguhnya jika engkau tidak berhenti daripada menyeru dan menasihati daku sudah tentu aku akan meluntarmu dengan batu; dan (ingatlah lebih baik) engkau tinggalkan daku sepanjang masa".

Dalam Surah al Mu’minun ayat 67:

مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ

Dengan keadaan sombong angkuh menjauhi (mendustakan) nya, serta mencacinya dalam perbualan kamu pada malam hari" .

Dan Surah al Muddathir ayat:5

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

“Dan segala kejahatan, maka hendaklah engkau jauhi”.

Manakala akar kata Haa-ja-ra dan perkataan yang terbit daripadanya berulang sebanyak 21 kali dalam Surah surah berikut:

Surah al Baqarah :218

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَـئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللّهِ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah serta berjuang pada jalan Allah (untuk menegakkan ugama Islam), mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

Surah Ali Imran ayat: 195

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لاَ أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى بَعْضُكُم مِّن بَعْضٍ فَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَأُخْرِجُواْ مِن دِيَارِهِمْ وَأُوذُواْ فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُواْ وَقُتِلُواْ لأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ ثَوَابًا مِّن عِندِ اللّهِ وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

Maka Tuhan mereka perkenankan doa mereka (dengan firmanNya): "Sesungguhnya Aku tidak akan mensia-siakan amlanl orang-orang yang beramal dari kalangan kamu, sama ada lelaki atau perempuan, (kerana) setengah kamu (adalah keturunan) dari setengahnya yang lain; maka orang-orang yang berhijrah (kerana menyelamatkan ugamanya), dan yang diusir ke luar dari tempat tinggalnya, dan juga yang disakiti (dengan berbagai-bagai gangguan) kerana menjalankan ugamaKu, dan yang berperang (untuk mempertahankan Islam), dan yang terbunuh (gugur Syahid dalam perang Sabil) - sesungguhnya Aku akan hapuskan kesalahan-kesalahan mereka, dan sesungguhnya Aku akan masukkan mereka dalam Syurga yang mengalir di bawahnya anak-anak sungai, sebagai pahala dari sisi Allah. Memang di sisi Allah jualah pahala yang sebaik-baiknya (bagi orang yang beramal soleh)".

Surah An Nisa’ :89

وَدُّواْ لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَاء فَلاَ تَتَّخِذُواْ مِنْهُمْ أَوْلِيَاء حَتَّىَ يُهَاجِرُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدتَّمُوهُمْ وَلاَ تَتَّخِذُواْ مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلاَ نَصِيرًا

Mereka suka kalau kamu pula menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, maka (dengan yang demikian) menjadilah kamu sama seperti mereka. Oleh itu janganlah kamu mengambil (seorang pun) di antara mereka menjadi teman rapat kamu, sehingga mereka berhijrah pada jalan Allah (untuk menegakkan Islam). Kemudian kalau mereka sengaja berpaling ingkar, maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana sahaja kamu menemuinya; dan jangan sekali-kali kamu mengambil (seorang pun) di antara mereka menjadi teman rapat atau penolong;

Surah An Nisa’:97

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلآئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمْ قَالُواْ كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأَرْضِ قَالْوَاْ أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُواْ فِيهَا فَأُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءتْ مَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang yang diambil nyawanya oleh malaikat semasa mereka sedang menganiaya diri sendiri (kerana enggan berhijrah untuk membela Islam dan rela ditindas oleh kaum kafir musyrik), mereka ditanya oleh malaikat dengan berkata: "Apakah yang kamu telah lakukan mengenai ugama kamu?" Mereka menjawab: "Kami dahulu adalah orang-orang yang tertindas di bumi". Malaikat bertanya lagi: "Tidakkah bumi Allah itu luas, yang membolehkan kamu berhijrah dengan bebas padanya?" Maka orang-orang yang sedemikian itu keadaannya; tempat akhir mereka ialah neraka jahanam, manakala neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Surah An Nisa’:Surah :100

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللّهِ يَجِدْ فِي الأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلى اللّهِ وَكَانَ اللّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Dan sesiapa yang berhijrah pada jalan Allah (untuk membela dan menegakkan Islam), nescaya ia akan dapati di muka bumi ini tempat berhijrah yang banyak dan rezeki yang makmur; dan sesiapa yang keluar dari rumahnya dengan tujuan berhijrah kepada Allah dan RasulNya, kemudian ia mati (dalam perjalanan), maka sesungguhnya telah tetap pahala hijrahnya di sisi Allah. Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

Surah al Anfal:72

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ آوَواْ وَّنَصَرُواْ أُوْلَـئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يُهَاجِرُواْ مَا لَكُم مِّن وَلاَيَتِهِم مِّن شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُواْ وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلاَّ عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah, serta orang-orang (Ansar) yang memberi tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Islam yang berhijrah itu), mereka semuanya menjadi penyokong dan pembela antara satu sama lain. Manakala orang-orang yang beriman yang belum berhijrah, maka kamu tidak bertanggungjawab sedikitpun untuk membela mereka sehingga mereka (sendiri) berhijrah. Seandainya mereka mohon pertolongan kepada kamu dalam hal (menentang musuh untuk membela) agama, maka wajiblah kamu menolong mereka, kecuali terhadap kaum yang kamu ada perjanjian setia dengan mereka. Dan (ingatlah) Allah Maha Melihat apa yang kamu semua lakukan.

Surah al Anfal:74

وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ آوَواْ وَّنَصَرُواْ أُولَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah (untuk membela Islam), serta orang-orang (Ansar) yang memberi tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Islam yang berhijrah itu), maka merekalah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka beroleh keampunan dan limpah kurnia (Allah) yang mahal dan mulia.

Surah al Anfal:75

وَالَّذِينَ آمَنُواْ مِن بَعْدُ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ مَعَكُمْ فَأُوْلَـئِكَ مِنكُمْ وَأُوْلُواْ الأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Orang-orang yang beriman sesudah itu( selepas era leluhur), kemudian mereka berhijrah dan berjihad bersama-sama kamu, maka mereka adalah dari golongan kamu. Dalam pada itu, orang-orang yang mempunyai pertalian kerabat, setengahnya lebih berhak atas setengahnya yang (lain) menurut (hukum) Kitab Allah; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala-galanya .

Surah At Taubah ayat 20

الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

(Sesungguhnya) orang-orang yang beriman , berhijrah serta berjihad pada jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka maka mereka itu adalah lebih besar dan tinggi darjatnya di sisi Allah (daripada orang-orang yang hanya memberi minum orang-orang Haji dan orang yang memakmurkan masjid sahaja); dan ( sebenarnya) mereka itulah orang-orang yang berjaya.

Surah At Taubah ayat 100

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Para leluhur (golongan) perintis - yang mula-mula (berhijrah dan memberi bantuan) dari kalangan orang-orang "Muhajirin" dan "Ansar", dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka dengan kebaikan (iman dan taat), Allah redha kepada mereka dan mereka pun redha (bertuhankan) Dia, Allah menyediakan untuk mereka Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya (anak-anak) sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah kemenangan yang besar.

Surah At Taubah ayat 117

لَقَد تَّابَ الله عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِن بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi , orang-orang Muhajirin dan Ansar yang mengikutinya (berjuang) dalam masa kesukaran, sesudah hampir-hampir terpesong hati segolongan dari mereka (daripada menurut Nabi untuk berjuang); kemudian Allah menerima taubat mereka; sesungguhnya Allah amat belas, lagi Maha Mengasihani terhadap mereka.

Surah An Nahli ayat:41

وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ فِي اللّهِ مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُواْ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang yang berhijrah kerana Allah, sesudah mereka dianiaya (ditindas oleh musuh-musuh Islam), Kami akan menempatkan mereka di dunia ini pada posisi yang baik; dan sesungguhnya pahala (amal mereka yang baik itu) lebih besar di akhirat kelak, kalaulah mereka mengetahui.

Surah An Nahli ayat:110

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُواْ مِن بَعْدِ مَا فُتِنُواْ ثُمَّ جَاهَدُواْ وَصَبَرُواْ إِنَّ رَبَّكَ مِن بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (memberikan pertolongan) kepada orang-orang yang telah berhijrah sesudah mereka difitnahkan (oleh kaum musyrik), kemudian mereka berjihad serta bersabar; sesungguhnya Tuhanmu - sesudah mereka menderita dan bersabar dalam perjuangan - adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

Surah Al-Haj :58 وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sudah tentu Allah akan mengurniakan kepada mereka limpah kurnia yang baik. Dan (ingatlah) sememangnya Allah adalah sebaik-baik pemberi limpah kurnia.

Surah Al-Nur:22

وَلَا يَأْتَلِ أُوْلُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang berharta serta lapang hidupnya dari kalangan kamu, bersumpah tidak mahu lagi memberi bantuan kepada kaum kerabat dan orang-orang miskin serta orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah; dan (sebaliknya) hendaklah mereka memaafkan serta melupakan kesalahan orang-orang itu; tidakkah kamu suka Allah mengampunkan dosa kamu? Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani.

Surah al Ankabut:26

فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Kemudian Lut beriman kepadanya (Nabi Ibrahim) dan Nabi Ibrahim pun berkata: "Aku bercadang untuk berhijrah kepada TuhanKu, sesungguhnya Dia lah jua Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana".

Surah al Ahzab:6

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُوْلُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَن تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُم مَّعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

Nabi itu lebih utama ditolong (dan dilindungi) berbanding diri orang-orang yang beriman itu sendiri; manakala para isteri Nabi adalah menjadi (laksana) ibu kepada mereka. (Dalam masa yang sama) orang-orang yang mempunyai pertalian kerabat, setengahnya lebih berhak (mewarisi) berbanding setengah yang lain - menurut (hukum) Kitab Allah – dari kalangan orang-orang yang beriman dan orang-orang Muhajirin (yang bukan kerabatnya). Kecuali kalau kamu hendak berbuat baik kepada kaum kerabat kamu (yang terdekat) Hukum (agihan ) yang demikian itu adalah tertulis dalam Kitab Allah.

Surah al Ahzab:50

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاء اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ

Wahai Nabi, sesungguhnya Kami telah halalkan bagimu isteri-isterimu yang engkau berikan maskahwinnya, dan hamba-hamba perempuan yang engkau miliki dari apa yang telah dikurniakan Allah kepadamu sebagai tawanan perang; dan (Kami telah halalkan bagimu berkahwin dengan sepupu-sepupumu, iaitu): anak-anak perempuan bapa saudaramu (dari sebelah bapa) serta anak-anak perempuan emak saudaramu (dari sebelah bapa), dan anak-anak perempuan bapa saudaramu (dari sebelah ibu) serta anak-anak perempuan emak saudaramu (dari sebelah ibu) yang telah berhijrah bersama-sama denganmu;

Surah al Hasyr:8

لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

(Pemberian itu hendaklah diuntukkan) kepada orang-orang fakir yang berhijrah, yang telah diusir keluar dari kampung halamannya dan harta bendanya (kerana berpegang teguh kepada ajaran Islam), untuk mencari limpah kurnia dari Allah dan keredaanNya, serta menolong (agama) Allah dan RasulNya; mereka itulah orang-orang yang benar (iman dan amalnya).

Surah al Hasyr:9

وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang (Ansar) yang mendiami negeri (Madinah) serta beriman sebelum mereka, (amat) mengasihi orang-orang yang berhijrah ke negeri mereka, dan tidak ada pula dalam hati mereka perasaan berhajatkan apa yang telah diberi kepada orang-orang yang berhijrah itu; dan mereka juga mengutamakan orang-orang yang berhijrah itu lebih daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan kekurangan dan amat berhajat. Dan (ingatlah), sesiapa yang menjaga serta memelihara dirinya daripada dipengaruhi oleh tabiat bakhilnya, maka merekalah orang-orang yang berjaya.

Surah al Mumtahanah :10

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila orang-orang perempuan yang mengaku beriman datang berhijrah kepada kamu, maka ujilah (iman) mereka: Allah lebih mengetahui akan keimanan mereka: dengan yang demikian, sekiranya kamu mengetahui bahawa mereka beriman, maka janganlah kamu mengembalikan mereka kepada orang-orang yang kafir. Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu (sebagai isteri), dan orang-orang kafir itu pun tidak juga halal bagi mereka (sebagai suami).

Hijrah Dalam Hadith Rasulullah

Hijrah juga sudah menjadi amalan dalam syariat Nabi Muhammad S.A.W. Baginda telah berhijrah ke Habasyah dan ke Madinah. Manakala para sahabat abginda ada yang diperinthakan berhijrah ke Yaman dan sebagainya.

Baginda bersabda:

: وأنا آمركم بخمس الله أمرني بهن: بالجماعة، والسمع، والطاعة، والهجرة، والجهاد في سبيل الله، وإنه من خرج من الجماعة قيد شبر، فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه إلا أن يراجع، ومن دعا بدعوى الجاهلية، فهو من جثى جهنم، قالوا: يا رسول الله وإن صام وصلى؟ قال: وإن صام وصلى وزعم أنه مسلم، فادعوا المسلمين بما سماهم المسلمون المؤمنون عباد الله

Aku perintahkan kalian mengarjakan lima perkara yang aku sendiri telah diperintahkan oleh Allah (melakukannya) : Berjamaah, sentiasa mendengar (perintah Allah), sentiasa patuh (kepadaNya) berhijrah dan berjihad. Siapa yang keluar dari jamaah walau kadar sejengkal maknanya ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya; kecuali kalau dia kembali semula. Siapa yang mengajak kepada seruan jahiliah maka dia adalah penduduk neraka. Sahabat bertanya Ya Rasulullah walaupun orang berkenaan berpuasa dan menunaikan solat. Baginda menjawab: (ya) walaupun ia berpuasa, bersolat dan menganggap dirinya muslim. Oleh itu serulah orang Islam dengan nama muslimun, mu’minun sebagai para hamba Allah.

Baginda pernah ditanya tentang kesesuaian masa berhijrah. Baginda menjawab:

"لا هجرةَ بعد الفتح، ولكن جِهادٌ ونِيَّةٌ، وإذا استُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا". (رواه البخاري ومسلم)

Tidak disuruh hijrah(hijrah wajib) selepas kota Mekah dibuka. Yang ada ialah jihad dan memasang niat (untuk berjihad). Kalau kalian semua diseru supaya tampil berjihad maka tampillah keluar berjihad

Rasulullah bersabda lagi:

لا تنقطع الهجرة حتى تنقطع التوبة، ولا تنقطع التوبة حتى تطلع الشمس من مغربها

Hijrah tidak berakhir sehinggalah taubat sudah tidak diterima lagi. Manakala taubat hanya tidak diterima apabila matahari terbit dari sebelah Barat.

Sabda baginda lagi:

لا يحل لمؤمن أن يهجر مؤمنا فوق ثلاث، فإن مرت به ثلاث فليقله وليسلم عليه، فإن رد عليه السلام فقد اشتركا في الأجر، وإن لم يرد عليه السلام فقد باء بالإثم وخرج المسلم من الهجرة.

Orang mu’min tidak boleh (tidak halal) memutuskan hubungan (silaturrahim) dengan saudaranya lebih dari tiga hari. Kalau berlalu tempoh tiga hari maka mereka hendaklah menyapa dan mengucapkan salam. Kalau dia menjawab kedua-duanya berkongsi pahala (menyambung silaturrahim) Kalau salah seorang tidak menjawab maka d ialah yang menanggong dosa dan keluarlah (pemberi salam) dari dosa memutuskan hubungan (silaturrahim).

Juga hadith:

"والمُهاجِر مَن هجَر ما نهَى الله عنه". (رواه البخاري ومسلم)

“Orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan larangan Allah “

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

"يُوشِكُ أن يكونَ خيرُ مالِ المسلمِ غَنَمًا يَتبَعُ بها شَعَفَ الجبال ومواقعَ القَطْر، يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الفِتَنِ".

“Hampir-hampir tiba zaman di mana harta yang paling baik dimiliki oleh seseorang muslim ialah (harta mudah alih) seperti kambing yang dapat di bawa mendaki bukit dan meredah nusa demi melarikan dirinya dari fitnah (bencana)”

Pada suatu ketika A’aisyah di tanya mengenai hijrah. Beliau menjawab:

لا هجرة اليوم، كان المؤمن يَفِرُّ بدِينه إلى الله ورسوله مَخافةَ أن يُفتَنَ، فأما اليوم فقد أظهَرَ اللهُ الإسلام، والمؤمن يعبد ربه حيث شاء. (رواه البخاري).

“Beliau menjawab: Kini sudah tidak perlu berhijrah. Dulu orang mu’min terpaksa melarikan diri kerana menyelamatkan agama dan keimanannya kepada Allah dan RasulNya. Tapi kini Allah telah memenangkan Islam. Orang mu’min bebas menyembah tuhannya di mana sahaja dia mahu.”

(Hadith Riwayat Bukhari)

Pengertian Hijrah:

Dari segi bahasa hijrah ialah pergi meninggalkan orang lain dengan membawa diri atau dengan lidah atau dengan hati dan perasaan. Dari sudut syara’ ia membawa makna meninggalkan negara kafir atau menjauhkan diri dari golongan petualang atau tindakan dan perbuatan jahat atau keji atau menghindari sifat-sifat yang rendah dan buruk.

Hijrah menjadi amalan Nabi Ibrahim di mana beliau telah menghijrahkan diri dan keluarga beliau dari tanah asal beliau di Iraq ke Syam. Beliau pergi meninggalkan daerah yang ingkar dan kufur kepada Allah dan merantau ke daerah Iman . Seterusnya beliau berhijrah ke Mekah seperti yang dijelaskan dalam Surah Ibrahim ayat :37

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Maksudnya:
Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian dari zuriat keturunanku di sebuah lembah (Tanah Suci Mekah) yang tidak ada tanaman padanya, di sisi rumahMu yang diharamkan mencerobohinya. Wahai Tuhan kami, semoga mereka mendirikan sembahyang (dan memakmurkannya dengan ibadat). Oleh itu, jadikanlah hati sebahagian dari manusia cenderung kepada mereka, dan kurniakanlah rezeki kepada mereka dari berbagai jenis buah-buahan dan hasil tanaman, semoga mereka bersyukur.

Jenis Jenis Hijrah

(a)Hijrah meninggalkan ajaran kufur, sesat, syirik, hypocrisy dan segala jenis kejahatan. Ini berdasarkan firman Allah dalam Surah al Mudhdhathir ayat:5

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

Kejahatan (dan kekejian) hendak kamu hindari

Ayat ini memerintahkan umat Islam menjauhi segala ajaran yang menyanggahi syariat seperti ajaran perkauman, kominisme, nasionalisme dan sebagainya yang sebenarnya meletakkan bangsa mengatasi ajaran agama. Ajaran yang bersifat menyeluruh yang bertentangan dengan agama perlu ditinggalkan dan di jauhi oleh setiap umat Islam agar terlepas dari bencana dan azab Allah.

(b) Hijrah meninggalkan para pengikut kejahatan dan ajaran sesat, kufur ,fasiq dan munafiq. Allah berfirman dalam Surah al Muazzammil:10

وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

Bersabarlah menghadapi cacian mereka dan hindarilah mereka dengan cara yang sopan

3) Hijrah Hati atau Sikap. Umat Islam perlu melatih diri untuk tidak cenderung hati kepada orang yang zalim lagi derhaka dan pengikut ajaran kebatilan. Mereka tidak boleh membiarkan hati mereka betah dan setuju dengan manusia dan golongan penderhaka dan enggan mengikut ajaran Islam itu.

Mereka wajar mengikut jejak langkah Nabi Musa yang tidak samasekali mahu menjadi pendokong golongan yang sesat. Beliau berdoa dalam Surah al-Qasas :16-17

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ قَالَ رَبِّ بِمَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ أَكُونَ ظَهِيرًا لِّلْمُجْرِمِينَ

Musa berdoa (dengan sesalnya): Wahai Tuhan, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri; oleh itu ampunkanlah dosaku. (Maka Allah Taala menerima taubatnya) lalu Allah mengampunkan dosanya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. Dia berdoa lagi: Wahai Tuhanku, demi segala nikmat yang Engkau kurniakan kepadaku, maka aku samasekali tidak akan menjadi penyokong kepada golongan petualang .

Menurut Ibnu Arabi “Hijrah” ini terbahagi kepada 2 bahagian:Hijrah Hurub (Melarikan diri; menghindari) dan Hijrah Talab (pindah pergi mencari sara hidup).

Hijrah Hurub (Lari mengongsi) ada 6 jenis.

1. Hijrah meninggalkan Dar al Harbi untuk menuju ke Dar al Islam. Hijrah seperti ini wajib pada zaman Nabi dahulu dan terus wajib hingga hari kiamat bagi mereka yang berhadapan dengan situasi dan gugatan yang sama.

2. Keluar meninggalkan daerah bid’ah untuk menyelamatkan amalan agama yang dianuti.Ibnu al Qasim berkata saya pernah mendengar imam Malik berkata. Tidak wajar orang beriman tinggal ditempat di mana para leluhur siam mereka (Salaf) dicerca. Ibnu al Arabi mengulas: pendapat itu benar kerana kemunkaran itu jika anda tidak berdaya mengubahnya anda harus pergi menghindarinya. Allah berfirman dalam Surah al An’am 68:

: (وإذا رأيتَ الذينَ يَخُوضُونَ في آياتِنا فَأَعْرِضْ عَنهمْ حتى يَخُوضُوا في حديثٍ غيرِه وإمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشيطانُ فلا تقعدْ بعدَ الذِّكْرَى معَ القومِ الظالمينَ). (الأنعام: 68).

Dan apabila engkau melihat orang-orang yang memperkatakan dengan cara mencaci atau mengejek-ejek ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka memperkatakan soal yang lain; dan jika engkau dilupakan oleh Syaitan (lalu engkau duduk bersama mereka), maka janganlah engkau duduk lagi bersama-sama kaum yang zalim itu, sesudah engkau mengingati (akan larangan itu).

3. Hijrah meninggalkan bumi yang merata di persadanya amalan haram . Ini kerana mencari persekitaran (rezki) halal adalah kewajipan setiap muslim.

4.Hijrah dalam maksud lari menyelamatkan diri dari dicederakan atau dibunuh. Ini adalah kelonggaran yang diharuskan oleh Allah sebagai petanda rahmatNya. Ketika Nabi Ibrahim bimbang ancaman musuh daripada kaumnya dia pergi berhijrah .Ia berkata:

: (إنِّي ذاهبٌ إلى ربِّي سَيَهْدِينِ). (الصافات: 99)

(إنِّي مُهاجرٌ إلى ربِّي). (العنكبوت: 26)

Allah berfirman menceritakan perihal Nabi Musa lari berhijrah meninggalkan tempat asal beliau :

(فخرَجَ مِنها خائِفًا يَتَرَقَّبُ). (القصص: 21).

Beliau keluar dalam kadaan bimbang (takut) dan berhati-hati .

5. Hijrah dalam maksud lari meninggalkan sesuatu lokaliti tempat penginapan yang penuh wabak penyakit bahaya pergi mencari tempat penginapan atau kawasan tempat tinggal yang lebih bersih dan sihat. Baginda Rasululah pernah membenarkan sekumpulan penggembala unta yang tidak sesuai tinggal menghuni di Madinah kerana iklim dan cuacanya yang tersendiri menyebabkan mereka jatuh sakit untuk pergi menghuni di kawasan luar Madinah sehingga mereka pulih dan sihat. Cuma baginda mengecualikan keizinan ini dalam kes penyakit ta’un. Hijrah daripada kawasan ta’un tidak dibenarkan oleh hadith baginda yang sahih. Namun ada juga ulama yang berpendapat perkara itu makruh.

6. Hijrah lari kerana bimbangkan keselamatan harta benda. Justeru kerana harta benda ini bagi seorang muslim setaraf kepentingannya dengan taraf darah atau nyawa. Keuarga dan anak isteripun mempunyai martabat kepentingan yang setara. Malah untuk melindungi keselamatan mereka lagilah dituntut.

Manakala “Hijrah Talab” Hijrah untuk mencari (yang lebih baik) pula terbahagi kepda dua.Pertama menjaga maslahat agama dan kedua demi mencari kekayaan dunia . Mengenai yang kedua ini mungkin kurang penting untuk diperkatakan dan sudah tentu ia berbagai jenis berdasarkan sifat motif dan suasana.. Tumpuan kita ialah kepada hijrah Talab yang pertama dan ia terbahagi kepada 9 jenis



Hijrah Talab terbahagi kepada sembilan jenis: 1. Perjalanan untuk mencari pengetahuan atau ‘ibrah tauladan, ( Safar al ‘ibrah) . Perjalanan seperti ini tentulah berbagai ragam dan cara. Allah berfirman dalam Surah al Rum ayat 9

(أوَ لمْ يَسِيرُوا في الأرض فيَنْظُروا كيفَ كانَ عاقبةُ الذينَ مِن قَبْلِهِمْ). (الروم: 9).

2. Perjalan untuk haji

3. Perjalanan untuk berjihad dan ini mempunyai hukum hakamnya yang tersendiri.

4. Perjalanan untuk menyara hidup seperti mencari kayu api, berkerja di Negara yang lebih makmur dan sebagainya.

5. Perjalanan untuk berdagang dan mendapat rezki yang lebih lumayan melebihi kadar keperluan. Perjalan seperti ini harus dizinkan oleh Allah dengan firmanNya:

: (ليسَ عليكمْ جُناحٌ أنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِن رَبِّكُمْ). (البقرة: 198)

6. Perjalanan mencari ilmu

7. Perjalanan untuk menuju dan menziarahi tempat suci yang penuh keberkatan Rasulullah bersabda :

"لا تُشَدُّ الرِّحالُ إلا إلى ثلاثة مساجد". (رواه البخاري ومسلم).

8. Perjalanan jauh untuk tujuan menjaga post keselamatan yang stratigik dan demi jihad.

9. Perjalanan kerana mencari dan menziarahi sahabat karib kerana Allah semata-mata. Ini diperkukuh oleh hadith yang menceritakan bagaimana ada Malaikat yang menunggu di tengah jalan orang yang hendak pergi menziarahi sahabatnya. Malaikat bertanya destinasi dan motifnya lalu di katakan semata-mata kerana Allah. Malaikat tersebut menyampaikan berita gembira kepada orang yang hendak pergi menziarahi saudaranya tadi dengan ganjaran syurga Allah ( maksud Hadith riwayat Muslim)

Hijrah dan Reformasi

Dalam konteks yang lebih khusus; di mana hijrah di fahami sebagai peralihan lokasi untuk memenangkan perjuangan Islam maka ia merangkum usaha membersihkan

1. Kezaliman politik atau kemerajalelaan penguasa dan pemerintah

Kejahatan menghakis kemerdekaan umat dan rakyat dengan berbagai undang-undang adalah suatu kejahatan yang semakin berleluasa sekarang ini. Diperingkat antara bangsa di warwarkan terrorisme untuk menjadikan nuansa keamanan sebagai alasan yang cukup menyekat hak asasi manusia dan kebebasan rakyat. Dalam masa yang sama sebagai cara yang ampuh untuk menghalang pembangkang dari mendapat simpati rakyat.Alasan memerangi keganasan telah dieksploitasi untuk mengganasi manusia dan negara-negara di dunia ini oleh kuasa super power.

peringkat dalam negara jentera awam, pegawai kerajaan dan hak umum telah dijadikan hak parti yang berkuasa untuk memonopoli kekuasaan. SPR, Badan Kehakiman, Jabatan Pendaftaran Negara dan Media Massa telah digunakan untuk menafikan hak demokratik rakyat dan parti pembangkang. Akta aku janji telah menakut-nakutkan pegawai kerajaan dan rakyat agar hanya memehak kepada parti pemerintah yang berkuasa. Peruntukan pembangunan kawasan yang sepatutnya dinikmati oleh rakyat di seluruh kawasan parlimen dalam negara dinafikan terhadap rakyat yang memilih parti pembangkang. Parti yang memerintah memerangi rakyat , kontraktor dan pedagang dalam rezki mereka. Kontrak mereka disekat, seolah olah mereka adalah tuhan kejam yang tidak akan memberi rezki kepada orang yang tidak menyembah mereka. Pada hal tuhan yang sebenar pun tidak bertindak sedemikian. Demokrasi hanya dakwaan dan lips service semata-mata.

Mereka memerintah dengan budaya mencengkam, menindas , menghalang rezki, biasiswa dan seribu satu cara untuk memastikan proses demokrasi yang tulin tidak akan berlaku. Apa yang ditayangkan sebagai amalan demokrasi adalah dari segi luaran semata-mata. Pada hakikatnya yang diperaktikkan adalah amalan diktator dan penindasan yang tidak mengenal belas kasihan.

Inilah kejahatan besar yang sedang mencekik rakyat dan umat Islam baik di negeri Arab, Melayu mahupun di negeri atau di negara-negara lain. Gambaran zahirnya begitu lunak, mesra tapi pada batinnya penuh cengkaman , penindasan dan sikap tidak mahu menerima orang lain sebagai berhak untuk berkuasa dan memimpin dalam negara demokrasi.

Inilah malapetaka awal yang akan membuahkan malapetaka kedua seperti tsunami dan sebagainya.

Hijrah dan reformasi sebenarnya dalam konteks ini ialah mengujudkan pembangunan yang berterusan merangkum pembangunan manusia, negara dan masyarakat. Suaturombakan dan pembebasan yang mencakup segenap aspek kehidupan politik, ekonomi, budaya dan sosial. Di mana manusia sebagai poros dan kebebasan sebagai tunjangnya. Apabila kebebasan dinafikan dan nilai asas yang disanjung dan dianugerahkan oleh Allah ini di sita atau dinafikan maka kewujudan manusia itu sudah tidak bermakna.Pada hal tanggongjawab para Rasul dan Nabi dari kehadiran mereka ialah untuk membebaskan manusia dari belenggu kezaliman , untuk menobatkan kebebasan sebagai hak asasi mereka. Manusia dibebaskan dari belenggu perhambaan kecuali kepada Allah S.W.T.

Dalam hubungan ini adalah diperakukan bahawa : 1. Tidak ada kebebasan tanpa kudrat. Siapa yang mendakwa dirinya bebas ia mesti berhak dan boleh untuk mengatakan tidak atau sebaliknya bebas mengatakan ya untuk bersetuju.

2. Kebebasan mutlak memang tidak ada . Apa yang ada adalah kebebasan dalam lingkungan nilai masyarakat, prinsip dan adat resam masyarakat.

3.Kebebasan adalah hak untuk mereka yang berkerja, menghasilkan sesuatu dan berkongsi kehidupan dengan orang lain

4. Semua orang mempunyai taraf samarata untuk menggunakan hak masing-masing

2. Hijrah Menghapuskan Kekeliruan dan Pengeliruan Media Massa

Institusi kedua yang perlu dihijrah dan direformasikan ialah media massa yang umumnya telah dijadikan milik golongan sekularis dan nasionalis yang tidak memberi ruang kepada suara rakyat dari berbagai parti pembangkang. Mereka menggunakan media awam melalui pemberian lesen penyiaran yang selaus-luasnya kepada pendokong fahaman penentang Islam dan membelenggu suara parti Islam dan pembangkang lain.

Mereka; atau musuh-musuh perjuangan Islam menggunakan undang-undang untuk menghalang keberkesanan siaran oposisi Islam demi mengekang pengaruh mereka dan kemunculan Islam yang sebenarnya.Oleh itu suatu hijrah atau operasi besar mustahak dilancarkan untuk menggempur media lawan sehingga lumpuh dan memungkinkan media Islam tersibar luas di rantau ini.

3. Mereformasi Kesedaran dan Wahana Demokrasi Dalam Negara

Tanpa proses demokrasi yang lurus dan benar maka kendali politik akan jatuh ke tangan golongan yang tidak beretika dan tidak iltizam beragama. Rakyat tidak akan dapat menentukan siapa yang berkuasa, sebaliknya ia ditentukan oleh pegawai SPR yang membuat pemetaan kawasan pilihanraya secara mala fede dan niat jahat. Hasrat rakyat untuk membuat perubahan akan terkandas oleh mainan pegawai pendaftaran negara dan pegawai tertentu yang telah dipelihara untuk memenangkan parti tertentu. Kebencian rakyat akhirnya akan membuak-buak dan menghasilkan ledakan anarchi dan gelombang civil yang mungkin membawa huru-hara dan malapetaka. Sebab itulah usaha membetulkan jentera perlaksanaan demokrasi dalam negara suatu kemestian yang mendesak dan segera.

Dalam hubungan ini saudara Syed Ibrahim Pengerusi GMI mencadangkan tindakan berikut:

• Mewujudkan sebuah Jawatankuasa Bebas Reformasi Pilihanraya untuk mengkaji perkara-perkara umum yang perlu dikaji semula. Ini memberi fokus kepada sistem Pilihanraya dan mungkin boleh dibahagikan kepada tiga bahagian iaitu:

 Pengurusan dan pelaksanaan Pilihanraya – fokus kepada undang-undang berhubung Pilihanraya dan peranan SPR;

 Perlantikan SPR dan kakitangannya

 Sistem ‘First Past The Post (FPTP)’ dan batasannya

• Memastikan semakan daftar pemilih dilakukan secara berkala dan konsisten oleh semua pihak terlibat iaitu pengundi dan parti-parti politik.

• Memastikan senarai daftar pemilih adalah lengkap, sempurna dan tepat. Ini boleh dilaksanakan dengan memastikan daftar dikemaskini berpandukan alamat yang dikemaskini di bawah kawasan Pihak Berkuasa Tempatan (PBT). Ada kemungkinan pemilihan rakyat di peringkat kerajaan tempatan boleh diwujudkan semula.

• Mendesak SPR mengemukakan cadangan-cadangan awal dan langkah-langkah segera untuk mengembalikan kewibawaan badan berkenaan dan keyakinan rakyat

Pendekatan jangkamasa panjang

• Menggariskan program pendidikan pengundi yang terancang dan melibatkan semua pihak; SPR, Parti-parti Politik dan NGO.

• Mengkaji semula undang-undang Pilihanraya dan menimbangkan penggubalan Akta Pilihanraya Bebas dan Adil

o MAFREL misalnya merumuskan bahawa sistem Pilihanraya Malaysia yang diwarisi dari penjajah British sudah lapuk dan perlu dikaji keberkesanannya dalam konteks perkembangan terkini. MAFREL mencadangkan supaya Reformasi dilakukan untuk memperkenalkan pilihanraya perwakilan berimbang atau “proportionate representation” bagi menggantikan “Westminster democracy” yang menggunakan sistem Pilihanraya berkawasan yang kelihatannya menimbulkan permasalahan rumit seperti yang berlaku dalam Pilihanraya yang lalu.

o Menurut William Kimberling, Penolong Pengarah U.S. Federal Election Commission (FEC), salah satu kejayaan yang menyumbang kepada Pilihanraya yang bebas dan adil ialah undang-undang. Katanya, “I think it would be fair to say that the law has worked for the most part. Most politicians, believe it or not, are fairly honest and they want to obey the law. Besides, it’s terrible on your campaign if the FEC has to investigate your activity.”

• Penekanan nilai-nilai etika dan tingkahlaku Pilihanraya seperti mana yang disebutkan sebelum ini

Persoalan berbangkit ialah bagaimanakah pendekatan segera dan jangkamasa panjang ini boleh dilaksanakan? Bolehkah SPR berfungsi dengan sewajarnya? Bolehkah Parti-parti Politik berperanan? Bolehkah Parlimen mengambil langkah efektif dan berani mereformasi undang-undang? Bolehkah Kerajaan berazam memudahkan pelaksanaan pendekatan ini? Bolehkah rakyat menuntut reformasi ini dan melengkapkan diri masing-masing dengan pengetahuan tentang Pilihanraya? Nampaknya hasrat untuk berhijrah ke arah ini belum ada tanda-tanda positif kerajaan kita mahu mengorak langkah ke arah tujuan ini.

Resolusi Seminar Pemantapan Demokrasi Pemangkin Kebangunan Umat menegaskan tentang:

1. Demokrasi Islami perlu diperkukuhkan dengan:

a. Meletakkan kuasa Allah sebagai kuasa pemutus mutlak dan kuasa rakyat sebagai pembatas kedua.

b. Mengaplikasikan sistem syura Islam sebagai asas perubahan sistem demokrasi agar lebih positif; termasuk menyuburkan dan membenarkan persaingan yang sihat (daf’un) dengan mematuhi etika nilai akhlaq yang kental tanpa kompromi,

c. Menyuburkan persekitaran dan proses penyertaan politik yang adil dengan memastikan ujudnya level playing field agar persaingan dalam perbedaan berlaku dengan sihat , membina dan saling menhormati ,

d. Mewujudkan kumpulan ahlul halli wal aqdi yang bukan sahaja layak untuk dipilih dengan kepakaran mereka tetapi juga mempunyai ciri-ciri kepimpinan Islam yang jelas sejati dan murni ,

e. Memastikan wujudnya ruang untuk bai’ah politik dalam bentuk pengundian dapat dibuat secara sukarela oleh setiap rakyat Muslim bukan secara paksaan serta berdasarkan maklumat yang tepat dan benar

f. Menjaminkan agar prinsip ijmak (permuafakatan), ijtihad yang benar dan mengambil kira maslahah (kepentingan awam) dijadikan asas dalam amalan demokrasi .

2. Pemurnian Demokrasi perlu dilaksanakan dengan berdasarkan:

a. Kesedaran Rakyat untuk terlibat bagi menentukan masa depan politik dan kepimpinan negara;

b. Penjernihan segala instrumen serta proses demokrasi dengan cara menghapuskan amalan menindas dan mendiskriminasi seperti badan SPR yang tidak bebas , membataskan penyertaan pembangkang melalui mengenakan wang deposit yang tinggi dalam pilihanraya , masa kempen yang sengaja disingkatkan untuk menyekat pengaruh lawan, akses kepada media yang sangat terhad malah memihak secara tidak adil, mengujudkan pengundi hantu, mengeluarkan daftar pemilih yang penuh keraguan dan kekeliruan, merangka akta yang menghalang pergerakan pembangkang, manipulasi dalam persempadanan kawasan pilihanraya, dan tidakwujudnya persaingan yang seimbang dalam pilihanraya.

c. Mengamalkan prinsip perwakilan sebagai asas demokrasi dengan menggunakan kaedah perwakilan bernisbah (proportionate representation).

d. Mengujudkan pemisahan antara kerajaan yang memerintah dan parti politik kerana dalam sistem satu parti , parti politik yang dominan adalah jelas tidak demokratik, bersifat koersif, berlawanan dengan sifat sejahtera Islam dan menghakis kebajikan awam.

e. Mengusahakan agar pengembangan dan pengukuhan gerakan masyarakat madani dapat disuburkan dalam negara-negara umat Islam sebagai suatu saluran melibatkan masyarakat berpartisipasi aktif dalam proses membuat keputusan serta mengizinkan ujudnya ruang perbahasan dan percambahan pemikiran demi mendapatkan ide-ide yang bernas dalam membangunkan ummah.

3.Dalam usaha menyelamatkan masa depan umat yang menyertai proses demokrasi , Gerakan Islam Nusantara dan Asia perlu:

1. Memahami kandungan dan tujuhala masa depan yang dilakar dan dipaksakan oleh kuasa besar dunia dan negara negara Imprialis terhadap negara , agama, budaya , ekonomi dan politik umat Islam di rantau ini.

2. Berusaha meningkatkan kualiti hidup, politik, ekonomi , budaya , teknologi dan keupayaan pertahanan negara demi meningkatkan status umat masa kini dan masa depan

3. Merumuskan bentuk masa depan yang ideal , yang lebih adil, demokratik, bertamaddun yang membawa kesejahteraan dalam berbagai dimensi hidup umat khasnya dan dilapangan dasar , sistem dan perlaksanaan pemerintahan amnya.

4. Memberi respon yang wajar terhadap gambaran yang negatif yang ditonjolkan oleh gerakan anti Islam melalui pendedahan konspirasi mereka kepada umat.

5. Mendirikan lembaga-lembaga kajian strategik dan futuristik umat Islam dipelbagai buah negara umat Islam dan diperingkat nasional dan serantau yang berperanan mengkaji, memantau dan menghasilkan kajian dan rumusan masa depan serta modes operandinya yang terbaik untuk umat .

6. Meningkatkan kerjasama umat serantau dengan badan-badan dunia yang menyeru ke arah kedamaian , demokrasi dan keadilan melalui dailog peradaban dan kerjasama antara agama dalam rangka merumuskan agenda dunia yang lebih adil dan saling hormat-menghormati.

7.Membina alternatif kepada politik negara sehingga pengaruhnya dalam menentukan halatuju dan corak politik negara dapat diperluaskan. Pendekatan menerangkan kepada masyarakat mengenai kepentingan memilih politik alternatif yang Islamik perlu diusahakan.

8.Mendidik semula fahaman politik murni di kalangan umat dengan berkesan disemua lapisan masyarakat.

9.Mempunyai kerangka agenda politik yang lengkap untuk menyelamatkan umat dari menjadi mangsa kepada golongan anti Islam yang mahu meminggirkan umat dari arus perdana politik negara dan politik global.

10.Mampu membina aktivis yang berkecimpung secara langsung dalam politik pilihanraya agar mempunyai intergriti yang tinggi untuk menjadi contoh yang dihormati masyarakat.

11.Membina model semada diperingkat kualiti individu mahupun diperingkat organisasi supaya gerakan yang kompeten dapat ditampilkan dengan nilai dan sakhsiah Islamiah yang terpuji dan unggul.

12.Berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan negara dan ummah (nation and ummah building) sebagai sebuah kuasa yang dapat merawat dan mengawal kerosakan sosio-budaya, pemusnahan alam sekitar, kepincangan ekonomi dan korupsi politik dan pentadbiran negara.

13.Missi Gerakan Islam untuk membawa perubahan hendaklah dicapai melalui ‘perubahan terancang’ bukan ‘perubahan kebetulan’ atau ‘perubahan spontan’.

14.Memastikan Gerakan Islam dan parti-parti politik Islam berfungsi sebagai wadah yang berwibawa, berintegriti, bertangunggjawab, mengamalkan pengurusan yang cekap, gerakerja yang memberi kesan ke akar umbi masyarakat dan dapat melaksanakan amanah umat dengan berkesan tatkala diberi mandat untuk memegang kuasa memerintah.

15.Usaha membina dan mengembangkan jaringan antara sesama organisasi Islam termasuk antara tokoh dan aktivis Islam hendaklah dilaksanakan dengan berkesan dan sikap berbaik sangka termasuk menghormati kepelbagaian uslub hendaklah disuburkan dalam setiap usaha menangani isu umat.

16.Penekanan kepada usaha mengukuhkan kekuatan ekonomi organisasi Islam agar lebih berdikari dalam gerakerjanya hendaklah dipergiatkan agar keyakinan umat untuk menjadikan gerakan Islam sebagai organisasi contoh dapat dipertingkatkan.

17.Golongan mahasiswa hendaklah digembeleng untuk berperanan menyuburkan demokrasi yang sihat dan gerakan Islam perlu memberi tumpuan untuk membina kelompok ini sebagai pewaris perjuangan ummah masa depan.

18.Usaha memperkasakan gerakan Muslimah dalam usaha menyuburkan partisipasi yang aktif dan berkesan dalam pembangunan ummah . Demokrasi yang kini disalahguna untuk menjejaskan status Muslimah perlu ditangani dengan menggiatkan aktivis wanita dengan berkesan.

4. Hijrah Mereformasikan Kebudayaan dan Pendidikan Negara

Gambaran hidup dan budaya kini begitu mencemaskan. Menurut Sdr. Presiden Teras: “Kami merasa semacam kita ini bermain-main kata dan bersandiwara untuk resah dengan kerosakan budaya bangsa, namun pada hakikatnya kita tetap rasa selesa dengan apa yang ada dan kita puas dengan hanya menampal disana-sini kudis-kudis yang kelihatan pada kulit akan tetapi tidak mahu mengubati punca penyakit yang menjadi isu yang sebenar. Walhasil kita merana dengan jangkitan penyakit namun selesa dengan amalan yang menambah parahkan penyakit itu sendiri. Inilah yang dinamakan kontradiksi hidup.

Kita mengungkap soal institusi keluarga yang semakin longgar namun kita juga yang tidak mahu mengakui bagaimana dan rasional apa kita terus memperhebatkan kaum wanita untuk meningkatkan kerjaya diluar rumah.

Kita cemas dengan gelagat anak muda yang semakin liar, akan tetapi kita juga merasa bangga dan meluluskan permit kerana dapat menjadi tuan rumah kepada penghibur terkenal dunia yang lucah untuk memilih Malaysia sebagai distinasi ‘roadshow’ mereka.

Kita runsing dengan budaya generasi muda yang hilang jati diri, namun kita jugalah yang merubah dasar dari memperkukuhkan penggunaan bahasa Melayu kepada penggunaan Bahasa Inggeris atas alasan kita perlu maju dan bersaing dengan dunia. Malah kita jugalah yang merasa tidak bersalah bila melazimkan bercakap bahasa Inggeris dalam ucapan dan pergaulan lebih dari bahasa Melayu sehingga bahasa Melayu hanya menjadi bahasa sisipan semata-mata.

Kita mencanang-canangkan soal memperkuatkan ekonomi Melayu, tetapi kita jugalah yang memporak-perandakan ekonomi bangsa dengan amalan kronisme dan nespotisme dan dasar pilih buluh sehingga kita selesa dengan sistem ekonomi riba yang tidak mungkin akan menyelesaikan kemelut hidup kita, bangsa kita, mahupun krisis ekonomi negara keseluruhan

Budaya dan pendidikan saling berkaitan. Oleh itu sistem pendidikan dan halatuju pendidikan negara mesti direformasi ke arah memantapkan pendidikan sosiopolitik dan ekonomi yang waras , bijaksana dan bertamadun. Pelajar dan mahasiswa dididik dengan budaya demokrasi yang telus dan jujur, bukan demokrasi luaran yang palsu dan korup.

Penutup

Pendek kata Reformasi atau hijrah menyeluruh perlu diadakan untuk mengujudkan peralihan pradigma hidup menuju kepada kehidupan yang lebih diredhai Allah dan lebih jujur serta istiqamah. Hijrah kita semua sangat perlu kepada wawasan, perancangan, perlaksanaan yang rapi dan berterusan

Mampukah umat melaksanakan hijrah dan reformasi menyeluruh tersebut. Inilah pertanyaan yang menantikan jawapan dari tindakan dan gerak kerja kita semua.
Allah Akbar, Allah Akbar, Allah akbar

12/18/2009

SELAMAT MENYAMBUT TAHUN BARI HIJRAH (1431H)

Assalamualaikum dan salam perjuangan untuk semua hamba Allah sekalian.

Dikesempatan ini ana ingin mengucapkan Salam Maal Hijrah 1431 H
kepada abah tersayang dan ibu tercinta, adik-beradik yang dikasihi sama ada jauh atau dekat , sahabat-sahabat yang mengenali diri ini serta kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah senantiasa hendakNya
.

Semoga dengan kedatangan tahun baru ini kita dapat memperbaiki amalan kita supaya menjadi yang terbaik daripada sebelumnya. Semoga tahun baru ini lebih baik daripada tahun-tahun yang sebelumnya.

Di kesempatan ini ana ingin memohon berbanyak kemaafan atas segala salah dan silap, sama ada tindakan atau pun tutur bicara yang kurang menyenangkan kalian semua. Dan di kesempatan ini juga ana mengucapkan jutaan terima kasih di atas perhatian kalian sama ada ketika susah atau senang. Moga-moga Allah merahmati segala-galanya.

Akhir kalam, sambutlah tahun baru ini dengan penuh keazaman serta penuh dengan muhasabah. Apa yang baik itu datang dari Allah, dan apa yang kurang itu juga datang dari Allah, cuma disandarkan kepada diri ana yang jahil dalam mencari ilmu Allah Taala.

"ALLAHUMMA AHYIINA BIS-SU'ADAA WA AMITNA BISY-SYUHADAA"
"YA ALLAH, HIDUPKANLAH KAMI DENGAN KEBAHAGIAAN, DAN MATIKANLAH KAMI DENGAN MATI SYAHID"

RABBANA AATINA FID DUNYA HASANAH WA FIL AKHIRATI HASANAH WAQINA 'AZAABANNAR


SELAMAT MENYAMBUT MAAL HIJRAH (1431 H)

12/08/2009

Sekadar Perkongsian...

Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Biografi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani termuat dalam kitab Adz Dzail 'Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali. Tetapi, buku ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Beliau adalah seorang ulama besar sehingga suatu kewajaran jika sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjungnya dan mencintainya. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau berada di atas Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, maka hal ini merupakan suatu kekeliruan. Karena Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul yang derajatnya tidak akan pernah bisa dilampaui di sisi Allah oleh manusia siapapun.

Ada juga sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah (perantara) dalam do'a mereka. Berkeyakinan bahwa do'a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaraannya. Ini juga merupakan kesesatan.
Menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara tidak ada syari'atnya dan ini sangat diharamkan. Apalagi kalau ada yang berdo'a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do'a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Allah melarang makhluknya berdo'a kepada selainNya. Allah berfirman, yang artinya:
"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." (QS. Al Jin:18)
KelahirannyaSyaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang 'alim di Baghdad yang lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan atau disebut juga Kailan. Sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliy.

PendidikannyaPada usia yang masih muda beliau telah merantau ke Baghdad dan meninggalkan tanah kelahirannya. Di sana beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthath, Abul Husein Al Farra' dan juga Abu Sa'ad Al Mukharrimi sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.

PemahamannyaBeliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau. Beliau adalah seorang alim yang beraqidah ahlus sunnah mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak pula orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, "thariqah" yang berbeda dengan jalan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, para sahabatnya dan lainnya.

Syaikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, "Dia (Allah) di arah atas, berada di atas 'ArsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu. "Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits, lalu berkata, "Sepantasnya menetapkan sifat istiwa' (Allah berada di atas 'ArsyNya) tanpa takwil (menyimpangkan kepada makna lain). Dan hal itu merupakan istiwa' dzat Allah di atas 'Arsy.

DakwahnyaSuatu ketika Abu Sa'ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil di sebuah daerah yang bernama Babul Azaj dan pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada Syaikh Abdul Qadir. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memeberikan nasehat kepada orang-orang yang ada di sana, sampai beliau meninggal dunia di daerah tersebut.

Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasihat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau. Sehingga sekolah ini tidak kuat menampungnya. Maka diadakan perluasan.

Imam Adz Dzahabi dalam menyebutkan biografi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A'lamin Nubala, menukilkan perkataan Syaikh sebagai berikut, "Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat."
Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Ibnu Qudamah penyusun kitab fiqh terkenal Al Mughni.
WafatnyaBeliau Wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi'ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj.

Pendapat ulamaKetika ditanya tentang Syaikh Abdul Qadir Al jailani, Ibnu Qudamah menjawab, "Kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian kepada kami. Kadang beliau mengutus putra beliau Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Terkadang beliau juga mengirimkan makanan buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu."

Ibnu Rajab di antaranya mengatakan, "Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syaikh, baik ulama dan para ahli zuhud. Beliau memiliki banyak keutamaan dan karamah. Tetapi ada seorang yang bernama Al Muqri' Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri (orang Mesir) mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya). Cukuplah seorang itu dikatakan berdusta, jika dia menceritakan segala yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tenteram untuk meriwayatkan apa yang ada di dalamnya, kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari kitab selain ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh (dari agama dan akal), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak terbatas. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. Kemudian aku dapatkan bahwa Al Kamal Ja'far al Adfawi telah menyebutkan bahwa Asy Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini."

Ibnu Rajab juga berkata, "Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma'rifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang banyak berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang pada sunnah. "

Imam Adz Dzahabi mengatakan, "intinya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya, dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang-orang beriman). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau." (Syiar XX/451).
Imam Adz Dzahabi juga berkata, "Tidak ada seorangpun para ulama besar yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi."
Syaikh Rabi' bin Hadi Al Makhdali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil, hal.136, "Aku telah mendapatkan aqidah beliau (Syaikh Abdul Qadir Al Jailani) di dalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. Maka aku mengetahui dia sebagai seorang Salafi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj salaf. Beliau juga membantah kelompok-kelompok Syi'ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.


_________Diringkas dari artikel : Siapakah Syeikh Abdul Qadir Al Jailani?Majalah As-Sunnah edisi 07/VI/1423H-2002M

12/01/2009

Sekadar Renungan di Aidil Adha

Salam Ukhwah.

Sama-sama kita renungkan persoalan-persoalan ini.

  • Bilakah kali terakhir aku menziarahi orang tuaku?
  • Bila agaknya aku akan menziarahi mereka lagi?
  • Sudahkah aku mendoakan kesejahteraan mereka?
  • Apa khabar agaknya ahli keluargaku?
  • Mengapa sudah lama aku tidak menghubungi mereka?
  • Sudahkah aku meminta maaf kepada orang yang telah aku sakiti atau yang aku kasari?
  • Sudahkah aku memaafkan orang yang melakukan kesalahan terhadapku?
  • Sudahkah aku tunaikan janjiku kepada suami/isteri, anak-anak dan sesiapa juga?
  • Sudahkah aku berzakat hasil perniagaanku?
  • Bilakah aku akan buang tabiat burukku?
  • Berapa banyak agakkah kesalahanku?
  • Pernahkah aku menipu dalam perniagaanku?
  • Masih ada lagikah aku pada hari esok?
  • Berkatkah rezekiku?
  • APAKAH ALLAH MEREDHAIKU?