Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani
Biografi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani termuat dalam kitab Adz Dzail 'Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali. Tetapi, buku ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Beliau adalah seorang ulama besar sehingga suatu kewajaran jika sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjungnya dan mencintainya. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau berada di atas Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, maka hal ini merupakan suatu kekeliruan. Karena Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul yang derajatnya tidak akan pernah bisa dilampaui di sisi Allah oleh manusia siapapun.
Ada juga sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah (perantara) dalam do'a mereka. Berkeyakinan bahwa do'a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaraannya. Ini juga merupakan kesesatan.
Menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara tidak ada syari'atnya dan ini sangat diharamkan. Apalagi kalau ada yang berdo'a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do'a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Allah melarang makhluknya berdo'a kepada selainNya. Allah berfirman, yang artinya:
"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." (QS. Al Jin:18)
KelahirannyaSyaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang 'alim di Baghdad yang lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan atau disebut juga Kailan. Sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliy.
PendidikannyaPada usia yang masih muda beliau telah merantau ke Baghdad dan meninggalkan tanah kelahirannya. Di sana beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthath, Abul Husein Al Farra' dan juga Abu Sa'ad Al Mukharrimi sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.
PemahamannyaBeliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau. Beliau adalah seorang alim yang beraqidah ahlus sunnah mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak pula orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, "thariqah" yang berbeda dengan jalan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, para sahabatnya dan lainnya.
Syaikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, "Dia (Allah) di arah atas, berada di atas 'ArsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu. "Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits, lalu berkata, "Sepantasnya menetapkan sifat istiwa' (Allah berada di atas 'ArsyNya) tanpa takwil (menyimpangkan kepada makna lain). Dan hal itu merupakan istiwa' dzat Allah di atas 'Arsy.
DakwahnyaSuatu ketika Abu Sa'ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil di sebuah daerah yang bernama Babul Azaj dan pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada Syaikh Abdul Qadir. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memeberikan nasehat kepada orang-orang yang ada di sana, sampai beliau meninggal dunia di daerah tersebut.
Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasihat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau. Sehingga sekolah ini tidak kuat menampungnya. Maka diadakan perluasan.
Imam Adz Dzahabi dalam menyebutkan biografi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A'lamin Nubala, menukilkan perkataan Syaikh sebagai berikut, "Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat."
Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Ibnu Qudamah penyusun kitab fiqh terkenal Al Mughni.
WafatnyaBeliau Wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi'ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj.
Pendapat ulamaKetika ditanya tentang Syaikh Abdul Qadir Al jailani, Ibnu Qudamah menjawab, "Kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian kepada kami. Kadang beliau mengutus putra beliau Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Terkadang beliau juga mengirimkan makanan buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu."
Ibnu Rajab di antaranya mengatakan, "Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syaikh, baik ulama dan para ahli zuhud. Beliau memiliki banyak keutamaan dan karamah. Tetapi ada seorang yang bernama Al Muqri' Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri (orang Mesir) mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya). Cukuplah seorang itu dikatakan berdusta, jika dia menceritakan segala yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tenteram untuk meriwayatkan apa yang ada di dalamnya, kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari kitab selain ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh (dari agama dan akal), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak terbatas. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. Kemudian aku dapatkan bahwa Al Kamal Ja'far al Adfawi telah menyebutkan bahwa Asy Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini."
Ibnu Rajab juga berkata, "Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma'rifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang banyak berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang pada sunnah. "
Imam Adz Dzahabi mengatakan, "intinya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya, dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang-orang beriman). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau." (Syiar XX/451).
Imam Adz Dzahabi juga berkata, "Tidak ada seorangpun para ulama besar yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi."
Syaikh Rabi' bin Hadi Al Makhdali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil, hal.136, "Aku telah mendapatkan aqidah beliau (Syaikh Abdul Qadir Al Jailani) di dalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. Maka aku mengetahui dia sebagai seorang Salafi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj salaf. Beliau juga membantah kelompok-kelompok Syi'ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.
_________Diringkas dari artikel : Siapakah Syeikh Abdul Qadir Al Jailani?Majalah As-Sunnah edisi 07/VI/1423H-2002M
12/08/2009
12/01/2009
Sekadar Renungan di Aidil Adha
Salam Ukhwah.
Sama-sama kita renungkan persoalan-persoalan ini.
Sama-sama kita renungkan persoalan-persoalan ini.
- Bilakah kali terakhir aku menziarahi orang tuaku?
- Bila agaknya aku akan menziarahi mereka lagi?
- Sudahkah aku mendoakan kesejahteraan mereka?
- Apa khabar agaknya ahli keluargaku?
- Mengapa sudah lama aku tidak menghubungi mereka?
- Sudahkah aku meminta maaf kepada orang yang telah aku sakiti atau yang aku kasari?
- Sudahkah aku memaafkan orang yang melakukan kesalahan terhadapku?
- Sudahkah aku tunaikan janjiku kepada suami/isteri, anak-anak dan sesiapa juga?
- Sudahkah aku berzakat hasil perniagaanku?
- Bilakah aku akan buang tabiat burukku?
- Berapa banyak agakkah kesalahanku?
- Pernahkah aku menipu dalam perniagaanku?
- Masih ada lagikah aku pada hari esok?
- Berkatkah rezekiku?
- APAKAH ALLAH MEREDHAIKU?
11/30/2009
Doakan Kejayaanku
Assalamualaikum buat kalian semua.
Alhamdulillah hari ini genap setahun penubuhan Pusat Bimbingan Tahfiz Al-Quran dan Qiraati Al-Mukarramah. InsyaAllah ana akan perkembangkan lagi Pusat ini dan harap-harap kalian doakan kejayaan ana.

Gambar di atas di ambil lebih kurang pada bulan Mac 2009. Alhamdulillah dalam setahun penubuhan PBTAQ ini pendaftarn pelajar yang mengikuti kelasku dalam lingkungan 60 orang pelajar. Semoga PBTAQ Al-Mukarramah ini memberi seribu makna kehidupan dalam tarbiyah hidupku.
Alhamdulillah hari ini genap setahun penubuhan Pusat Bimbingan Tahfiz Al-Quran dan Qiraati Al-Mukarramah. InsyaAllah ana akan perkembangkan lagi Pusat ini dan harap-harap kalian doakan kejayaan ana.

Gambar di atas di ambil lebih kurang pada bulan Mac 2009. Alhamdulillah dalam setahun penubuhan PBTAQ ini pendaftarn pelajar yang mengikuti kelasku dalam lingkungan 60 orang pelajar. Semoga PBTAQ Al-Mukarramah ini memberi seribu makna kehidupan dalam tarbiyah hidupku.
11/25/2009
SALAM PERTEMUAN...
Assalamualaikum buat sahabat-sahabat dan kenalan-kenalan yang begitu lama tidak bersua di laman ini. Ampun maaf atas ketidakmunculan hamba yang terlalu lama buat sahabat-sahabat dan teman-teman. Diam tidak bererti tewas, perjuangan mesti diteruskan.
'Ala kullihal, sedikit sebanyak ana rejuvenasikan blog ana ni. Jikalau ada apa-apa cadangan, ana terima dengan seadanya.
'Ala kullihal, sedikit sebanyak ana rejuvenasikan blog ana ni. Jikalau ada apa-apa cadangan, ana terima dengan seadanya.
9/30/2008
SALAM IDULFITRI BUAT SEMUA
Assalamualaikum wbt buat semua pengunjung dan semua saf sahabat seperjuangan di semua peringkat.
Ana memohon seribu kemaafan dari hujung rambut hingga hujung kaki kiranya ada salah dan silap sepanjang perkenalan kita semua.
Sambutlah salam sayang dan salam idulfitri dari ana.
"ORANG PINTAR IALAH SESIAPA YANG MEMULIAKAN DIRINYASERTA MEMBUAT PERSEDIAAN UNTUK KEHIDUPAN SELEPAS MATI, SEMENTARA ORANG BODOH IALAH SESIAPA YANG MEMBIARKAN DIRINYA MENGIKUT HAWA NAFSU SERTA MENGHARAPKAN CITA-CITANYA DIMAKBULKAN ALLAH" -Hadis riwayat Tirmizi-
Ana memohon seribu kemaafan dari hujung rambut hingga hujung kaki kiranya ada salah dan silap sepanjang perkenalan kita semua.
Sambutlah salam sayang dan salam idulfitri dari ana.
"ORANG PINTAR IALAH SESIAPA YANG MEMULIAKAN DIRINYASERTA MEMBUAT PERSEDIAAN UNTUK KEHIDUPAN SELEPAS MATI, SEMENTARA ORANG BODOH IALAH SESIAPA YANG MEMBIARKAN DIRINYA MENGIKUT HAWA NAFSU SERTA MENGHARAPKAN CITA-CITANYA DIMAKBULKAN ALLAH" -Hadis riwayat Tirmizi-
9/29/2008
'TETAMU YANG BERKUNJUNG - Antara Tarbiah dan Nafsu
Assalamualaikum W.B.T
Innalhamdalillah, nahmaduhu wa nastaiinuhu wa nastahdii wa nastaghfiruh, wa na'uuzu billahi min syururi anfusina wa min sayyiaati a'maalina, man yahdihillahu fala mudhillalah, wa man yudhlilhu fala hadiyalah, Ash-Hadu an laa Ilaha illAllah wa Ash-Hadu anna Muhammadan Rasulullah.
Apabila seluruh manusia serentak dibangkitkan dari alam kubur, di padang mahsyar yang luas, masing-amsing dalam keadaan semulajadi, seperti bayi yang baru lahir tanpa pakaianwalau seurat benang. Apakah mereka tidak rasa malu dalam keadaan tubuh dan juga kehormatan masing-masing terdedah kepada pandangan umum, lelaki dan wanita bercampur aduk bersesak-sesak.
Siti Saodah isteri Nabi ketika mendengar peristiwa dahsyat suasana manusia dibangkitkan di bumi mahsyar, lantas beliau bertanya kepada Nabi S.A.W. : "Ya Rasulullah, tidakkah manusia berasa malu apabila mereka dihimpunkan di bumi mahsyar dalam keadaan telanjang bulat tanpa berpakaian?"
Jawab Rasulullah s.a.w. : "Justeru dalam keadaan terlalu gawat menghadapi hari mahsyar itu, manusia terlupa dirinya tidak berpakaian, kerana memikirkan bagaimana hendak menyelamatka diri masing-masing."
Lalu Rasulullah s.a.w. membacakan firman Allah di dalam surah 'Abasa ayat 37:
(yang mana mafhumnya) ; "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya."
Imam Al-Ghazali ketika mengulas mengenai suasana hari kebangkitan itu menyatakan : "Alangkah dahsyatnya apabila kita berdepan dengan hari yang seluruh aurat kita terdedah, walaupun terdedah namun manusia tidak ambil peduli lagi, kerana manusia ketika itu dibangkitkan di bumi mahsyar dengan pelbagai cara, ada yang berjalan dengan perutnya, dan ada pula yang berdiri dengan mukanya terbalik ke bawah dan kakinya berada di atas."
Abu Hurairah berkata bahawa beliau telah mendengar suatu hari Rasulullah s.a.w. berpidato di hadapan para sahabat dengan sabdanya yang bermaksud : "Bahawa manusia di akhirat kelak dikumpul dalam tiga bentuk. Sekumpulan manusia sebaik saja dibangkitkan di bumi mahsyar sudah tersedia kenderaan untuk mereka, sementara sekumpulan lagi dibangkitkan dengan berjalan kaki, sementara yang satu kumpulan lagi manusia berjalan dengan mukanya tertungging ke tanah."
Seorang dari sahabat bertanya kepada Nabi s.a.w. : "Bagaimanakah caranya musia berjalan dengan menungging mukanya ke tanah?" Maka Nabi s.a.w. menjawab :
"Allah swt yang berkuasa mencipta hamba-Nya berjalan dengan kaki dan Allah jua berkuasa menciptakan hamba-Nya berjalan dengan mukanya ke tanah."
Di dunia inipun kita akan temui adanya makhluk yang diciptakan oleh Allah berjalan dengan perut iaitu ular, walaupun ular tidak memiliki kaki, tetapi ada kalanya ia menyusur sangat pantas sehingga sukar untuk ditangkap, walaupun yang mengejar itu adalah manusia yang mempunyai kaki.
Kata Imam Al-Ghazali, sesungguhnya manusia sering mengingkari sesuatu yang tidak pernah disaksikannya. Oleh itu mereka akan mempersoal bagaimana bagaimana pula manusia berjalan dengan mukanya ke bumi. Sekiranya makhluk ular itu tdak wujud di bumi ini, tiba-tiba ada orang berkata bahawa di kampungnya ada makhluk berjalan dengan perutnya, ketika itu tentulah orang akan mencemuh dan mustahil mereka boleh menerima kebenaran berita itu.
'Ala kullihal, alam akhirat adalah suatu alam yang di luar jangkauan manusia, sekalipun dia pernah mendengar cerita tentang kehidupan di mahsyar, namun setelah dia sendiri berada di sana, kenyataan sebenar tidak sama dengan apa yang pernah difikirkan, maka ia tidak dapat diukur dengan logik akal. Betapa dahsyatnya alam mahsyar tidak terbayang oleh manusia walaupun dengan ilmu yang dimiliki.
(RAMADHAN ; Antara Tarbiyah dan Nafsu)
Dalam penghujung Ramadhan ini, apakah kita sudah menghisab sendiri amalan kita di bulan yang penuh barakah dan kerahmatan ini sepanjang tetamu kita (Ramadhan) berkunjung? Apakah sepanjang bulan Ramadhan ini tarbiyah yang kita temui atau nafsu kita yang diuji? Sedar atau tidak, dalam masa yang sama kita juga leka dengan anugerah nafsu yang Allah Ta'ala kurnia kepada makhlukNya ini. Contonh yang paling dekat kita boleh lihat di bulan Ramadhan ini, kebanyakan (bukan semua) manusia tidak sedar bila berbuka dengan keadaan makanan yang pelbagai mereka (kita pun sama) yang seringkali menurut hawa nafsu. Apakah benar puasa kita membentuk tarbiyah dalam diri kita? Tepuk dada tanya iman (jangan tanya nafsu).
Bulan Ramadhan atau puasa sendiri adalah suatu sistem yang telah diinstitusikan oleh Allah Ta'ala berdasarkan kalimah 'KUTIBA' di dalam surah Al-baqarah ayat 183 yang merujuk kepada arahan berpuasa ; yang memberi makna 'telah ditulis' dan Allah Ta'ala tidak meletakkan kalimah 'wujiba' iaitu telah diwajibkan. Begitulah kehidupan kita hari ini penuh dengan sistem yang Allah Ta'ala telah tentukan dan gariskan.
Sebagi muhasabahnya, Ramadhan adalah tetamu yang paling istimewa yang Allah Ta'ala hadirkan kepada kita dan kita adalah tuan rumah yang istimewa andai kita menyambut kunjungannya dengan penuh hormat. Andai diri ini adalah tetamu yang bernama Ramadhan dan kalian adalah tuan rumah yang ingin kukunjungi, ku akan membawa buah tangan yang terbaik untuk kalian. TAPI sekiranya kalian tidak menyambutku dengan penuh rasa hormat, nescaya aku tidak akan meninggalkan sedikitpun buah tangan yang ku bawa pada kalian.
Akhir Kalam, apa yang baik itu datang dari Allah dan apa yang buruk itu juga datang dari Allah cuma segalanya disandarkan pada diri hamba yang dhaif lagi jahil dalam pencarian ilmu dan redhaNya.
Wassalam.
Innalhamdalillah, nahmaduhu wa nastaiinuhu wa nastahdii wa nastaghfiruh, wa na'uuzu billahi min syururi anfusina wa min sayyiaati a'maalina, man yahdihillahu fala mudhillalah, wa man yudhlilhu fala hadiyalah, Ash-Hadu an laa Ilaha illAllah wa Ash-Hadu anna Muhammadan Rasulullah.
Apabila seluruh manusia serentak dibangkitkan dari alam kubur, di padang mahsyar yang luas, masing-amsing dalam keadaan semulajadi, seperti bayi yang baru lahir tanpa pakaianwalau seurat benang. Apakah mereka tidak rasa malu dalam keadaan tubuh dan juga kehormatan masing-masing terdedah kepada pandangan umum, lelaki dan wanita bercampur aduk bersesak-sesak.
Siti Saodah isteri Nabi ketika mendengar peristiwa dahsyat suasana manusia dibangkitkan di bumi mahsyar, lantas beliau bertanya kepada Nabi S.A.W. : "Ya Rasulullah, tidakkah manusia berasa malu apabila mereka dihimpunkan di bumi mahsyar dalam keadaan telanjang bulat tanpa berpakaian?"
Jawab Rasulullah s.a.w. : "Justeru dalam keadaan terlalu gawat menghadapi hari mahsyar itu, manusia terlupa dirinya tidak berpakaian, kerana memikirkan bagaimana hendak menyelamatka diri masing-masing."
Lalu Rasulullah s.a.w. membacakan firman Allah di dalam surah 'Abasa ayat 37:
(yang mana mafhumnya) ; "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya."
Imam Al-Ghazali ketika mengulas mengenai suasana hari kebangkitan itu menyatakan : "Alangkah dahsyatnya apabila kita berdepan dengan hari yang seluruh aurat kita terdedah, walaupun terdedah namun manusia tidak ambil peduli lagi, kerana manusia ketika itu dibangkitkan di bumi mahsyar dengan pelbagai cara, ada yang berjalan dengan perutnya, dan ada pula yang berdiri dengan mukanya terbalik ke bawah dan kakinya berada di atas."
Abu Hurairah berkata bahawa beliau telah mendengar suatu hari Rasulullah s.a.w. berpidato di hadapan para sahabat dengan sabdanya yang bermaksud : "Bahawa manusia di akhirat kelak dikumpul dalam tiga bentuk. Sekumpulan manusia sebaik saja dibangkitkan di bumi mahsyar sudah tersedia kenderaan untuk mereka, sementara sekumpulan lagi dibangkitkan dengan berjalan kaki, sementara yang satu kumpulan lagi manusia berjalan dengan mukanya tertungging ke tanah."
Seorang dari sahabat bertanya kepada Nabi s.a.w. : "Bagaimanakah caranya musia berjalan dengan menungging mukanya ke tanah?" Maka Nabi s.a.w. menjawab :
"Allah swt yang berkuasa mencipta hamba-Nya berjalan dengan kaki dan Allah jua berkuasa menciptakan hamba-Nya berjalan dengan mukanya ke tanah."
Di dunia inipun kita akan temui adanya makhluk yang diciptakan oleh Allah berjalan dengan perut iaitu ular, walaupun ular tidak memiliki kaki, tetapi ada kalanya ia menyusur sangat pantas sehingga sukar untuk ditangkap, walaupun yang mengejar itu adalah manusia yang mempunyai kaki.
Kata Imam Al-Ghazali, sesungguhnya manusia sering mengingkari sesuatu yang tidak pernah disaksikannya. Oleh itu mereka akan mempersoal bagaimana bagaimana pula manusia berjalan dengan mukanya ke bumi. Sekiranya makhluk ular itu tdak wujud di bumi ini, tiba-tiba ada orang berkata bahawa di kampungnya ada makhluk berjalan dengan perutnya, ketika itu tentulah orang akan mencemuh dan mustahil mereka boleh menerima kebenaran berita itu.
'Ala kullihal, alam akhirat adalah suatu alam yang di luar jangkauan manusia, sekalipun dia pernah mendengar cerita tentang kehidupan di mahsyar, namun setelah dia sendiri berada di sana, kenyataan sebenar tidak sama dengan apa yang pernah difikirkan, maka ia tidak dapat diukur dengan logik akal. Betapa dahsyatnya alam mahsyar tidak terbayang oleh manusia walaupun dengan ilmu yang dimiliki.
(RAMADHAN ; Antara Tarbiyah dan Nafsu)
Dalam penghujung Ramadhan ini, apakah kita sudah menghisab sendiri amalan kita di bulan yang penuh barakah dan kerahmatan ini sepanjang tetamu kita (Ramadhan) berkunjung? Apakah sepanjang bulan Ramadhan ini tarbiyah yang kita temui atau nafsu kita yang diuji? Sedar atau tidak, dalam masa yang sama kita juga leka dengan anugerah nafsu yang Allah Ta'ala kurnia kepada makhlukNya ini. Contonh yang paling dekat kita boleh lihat di bulan Ramadhan ini, kebanyakan (bukan semua) manusia tidak sedar bila berbuka dengan keadaan makanan yang pelbagai mereka (kita pun sama) yang seringkali menurut hawa nafsu. Apakah benar puasa kita membentuk tarbiyah dalam diri kita? Tepuk dada tanya iman (jangan tanya nafsu).
Bulan Ramadhan atau puasa sendiri adalah suatu sistem yang telah diinstitusikan oleh Allah Ta'ala berdasarkan kalimah 'KUTIBA' di dalam surah Al-baqarah ayat 183 yang merujuk kepada arahan berpuasa ; yang memberi makna 'telah ditulis' dan Allah Ta'ala tidak meletakkan kalimah 'wujiba' iaitu telah diwajibkan. Begitulah kehidupan kita hari ini penuh dengan sistem yang Allah Ta'ala telah tentukan dan gariskan.
Sebagi muhasabahnya, Ramadhan adalah tetamu yang paling istimewa yang Allah Ta'ala hadirkan kepada kita dan kita adalah tuan rumah yang istimewa andai kita menyambut kunjungannya dengan penuh hormat. Andai diri ini adalah tetamu yang bernama Ramadhan dan kalian adalah tuan rumah yang ingin kukunjungi, ku akan membawa buah tangan yang terbaik untuk kalian. TAPI sekiranya kalian tidak menyambutku dengan penuh rasa hormat, nescaya aku tidak akan meninggalkan sedikitpun buah tangan yang ku bawa pada kalian.
Akhir Kalam, apa yang baik itu datang dari Allah dan apa yang buruk itu juga datang dari Allah cuma segalanya disandarkan pada diri hamba yang dhaif lagi jahil dalam pencarian ilmu dan redhaNya.
Wassalam.
9/09/2008
SALAM RAMADHAN
" Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal soleh bahawa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keaadan) mereka, sesidah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku..." (An-Nur : 55)
Assalamualaikum W.B.T
Pertama-tama yang paling utama marilah sama-sama kita mengangkat syukur kita ke hadrat Ilahi kerana dengan limpah kurnianya dapat lagi kita menerusakn agenda perjuangan kita dalm kehidupan yang penuh barakah di bulan Ramadhan ini. Moga kita semua menjadi manusia yang bertaqwa.
Ana memohon maaf kepada pengunjung laman ini keran mungkin diri ini dianggap menyepi buat seketika. Tapi, hidup ini tidak pernah sepi dari laungan-laungan takbir pejuang, nafas mujahid masih terus segar walau apa jua rintangan serta mehnah dan tribulasi yang mendatang.
Akhir kalam, moga coretan Ramadhan kali ini membajai semangat perjuangan islam yang moga-moga terus bertapak di Jannah.
Assalamualaikum W.B.T
Pertama-tama yang paling utama marilah sama-sama kita mengangkat syukur kita ke hadrat Ilahi kerana dengan limpah kurnianya dapat lagi kita menerusakn agenda perjuangan kita dalm kehidupan yang penuh barakah di bulan Ramadhan ini. Moga kita semua menjadi manusia yang bertaqwa.
Ana memohon maaf kepada pengunjung laman ini keran mungkin diri ini dianggap menyepi buat seketika. Tapi, hidup ini tidak pernah sepi dari laungan-laungan takbir pejuang, nafas mujahid masih terus segar walau apa jua rintangan serta mehnah dan tribulasi yang mendatang.
Akhir kalam, moga coretan Ramadhan kali ini membajai semangat perjuangan islam yang moga-moga terus bertapak di Jannah.
Langgan:
Catatan (Atom)
